Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-Jalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Januari 2009

Museum Mulawarman, Tenggarong

Foto bersama keponakan saya, Kiki, di depan patung Lembu Suana, Museum Mulawarman-Tenggarong

Perjalanan dari Balikpapan ke Tenggarong kami lakukan dengan mengendarai sepeda motor. Jarak yang harus ditempuh adalah 115 km, melewati jalan beraspal yang naik-turun dan berkelok-kelok. Pemandangan yang bisa dilihat kebanyakan berupa hutan dan hutan. Bila di lain waktu saya diajak naik sepeda motor lagi saya dengan tegas akan menolaknya. Bukan hanya karena jaraknya yang sangat jauh yang membuat pinggang terasa pegal-pegal seperti habis digebukin orang satu RT, tapi menurut beberapa orang, hutan yang harus dilalui itu terbilang angker. Saat pertama kali melewati hutan itu memang saya tidak merasa takut. Bukan karena saya pemberani, tapi karena tidak tahu akan hal itu! Pelajaran moral ketiga belas: tidak tahu + nekat = berani.

Tapi syukurlah, kami akhirnya sampai juga ke Tenggarong setelah tiga jam mengendarai sepeda motor. Pantat ini rasanya panas sekali, mengingat bantalan daging ini yang terbilang tipis. Tujuan sesungguhnya adalah bertandang ke tempat sepupu saya di Jl Mangkuraja Gg. 9. Tapi, sebelumnya kami singgah dulu di Museum Mulawarman, Tenggarong.

“Bermahkota bukannya raja. Berbelalai, bergading lainnya gajah. Bersayap bukannya burung. Bersisik lainnya ikan. Bertaji bukannya ayam. Binatang apakah ini?”. Demikian tulisan yang ada di monumen ‘hewan aneh’ di depan museum. ‘Hewan aneh’ yang dimaksud adalah Lembu Suana, yang juga adalah maskot kota Tenggarong.

Biaya masuk museum adalah 2500 rupiah untuk dewasa dan 1000 rupiah untuk anak-anak. Membawa kamera dan atau handycam diperbolehkan bila Anda berniat mengabadikan momen-momen saat berada di dalam museum. Membawa banana boat tentu saja tidak dianjurkan.

Museum ini terdiri dari dua lantai. Lantai bawah terletak di bawah tanah. Suasana di bawah tanah cukup pengap, apalagi kalau pengunjungnya banyak. Lebih pengap lagi kalau masing-masing pengunjung kentut. Pengap ini mungkin disebabkan oleh sirkulasi udara yang kurang lancar. Secara sirkulasi hanya ditopang oleh beberapa kipas angin saja. Di lantai ini terdapat banyak sekali koleksi keramik dari berbagai tempat, diantaranya dari Cina dan Eropa.

Di lain pihak, lantai atas terbilang sangat luas. Didalamnya terdapat banyak koleksi benda bersejarah dari Raja Mulawarman serta produk kerajinan dari Kaltim, tak ketinggalan sarung Samarinda yang terkenal itu. Berikut sejarah dari sarung Samarinda yang saya dapatkan dari museum tersebut:

“Sejarah perkembangan kerajinan tenun sarung Samarinda berawal dari perpindahan suku Wajo dari Sulawesi selatan pada abad XVII. Pada tahun 1665 terjadi peperangan di Kerajaan Bone, pada saat penyelenggaraan perkawinan putra raja Goa dengan putri raja Bone. Dalam acara tersebut diadakan sabung ayam yang diikuti oleh putra-putra raja dan kaum bangsawan. Pada saat itu ayam dari kerajaan Wajo dikalahkan oleh ayam dari Bone sehingga La Ma’dukelleng putra Arung Paniki raja Wajo menikam salah seorang bangsawan Bone yang bernama Matolla. Beberapa hari setelah kejadian itu datang utusan raja Bone ke Wajo untuk meminta raja Wajo menyerahkan La Ma’dukelleng kepada raja Bone untuk diadili.

Permintaan tersebut ditolak, sehingga terjadilah peperangan. Dalam peperangan tersebut kerajaan Wajo mengalami kekalahan. Akhirnya dengan suatu persetujuan, La Ma’dukelleng beserta ketiga putranya yaitu To Sibengareng, Petta Tarawe, Petta Tosingka serta 8 orang bangsawan dan 200 pengikutnya meninggalkan Wajo menuju tanah Kutai. Di tengah perjalanan rombongan ini kehabisan bekal dan merapat di Pasir Baru. Satu bulan mereka di sana, mereka mendapat kabar bahwa kerajaan Wajo sudah ditaklukkan oleh kerajaan Bone, sehingga banyak masyarakat Bone yang berdatangan ke tanah Kutai. Akhirnya diutuslah La Mohang Daeng Mangkona menuju Kutai untuk berusaha. Pada masa itu kerajaan Kutai diperintah oleh Pangeran Dipati Mojo Kusumo. Oleh raja Kutai, La Mohang Daeng Mangkona diberi daerah Loa Buah, namun daerah tersebut tidak cocok untuk bercocok tanam, sehingga akhirnya diberi daerah Samarinda Seberang. Akhirnya La Mohang Daeng Mangkona menetap di daerah Samarinda Seberang dan berusaha di sana. Di daerah yang baru masyarakat Wajo masih terus menjalani berbagai adat tradisi dari tanah asal mereka. Salah satu yang paling menonjol adalah berkembangnya kerajinan tenun tradisional yang dikerjakan oleh kaum ibu yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama Sarung Samarinda.”

Selain Museum Tenggarong sebenarnya masih banyak obyek wisata yang ada di Tenggarong. Berhubung waktu yang sangat terbatas (karena kami harus kembali ke Balikpapan hari itu juga), maka penjelajahan kota Tenggarong (dan Samarinda) terpaksa ditunda dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.Tapi tenang saja, saya sudah minum air Mahakam kok. Konon, orang yang sudah minum air Mahakam akan kembali lagi ke sana lho. Lihat saja.


Senin, 29 Desember 2008

Obyek Wisata di Balikpapan

Obyek wisata di Balikpapan memiliki 2 kata kunci: pantai dan hutan. “Balikpapan memiliki tata ruang kota yang lebih teratur dibanding Samarinda”, kata Oom saya.. Ada 3 jalan utama yang wajib Anda tahu bila tidak ingin tersesat, yaitu Jl A.Yani, Jl Jend.Sudirman dan Jl Soekarno-Hatta. Obyek wisata pantai ada di sepanjang Jl Jend.Sudirman, sedangkan obyek wisata hutan (agrowisata) ada di sepanjang Jl Soekarno-Hatta, yang juga adalah penghubung antara kota Balikpapan dengan Samarinda. Jl A.Yani menghubungkan keduanya (Jl Jend.Sudirman dan Jl Soekarno-Hatta).

Pantai Klandasan

Pantai ini terletak tidak jauh dari pusat kota, tepatnya di Jl Jend.Sudirman, sehingga bisa dikunjungi kapan saja.Pasirnya putih dan lokasinya lumayan bersih.Pantai ini menghadap ke arah timur dan cocok untuk dikunjungi saat pagi hari, terutama bila ditemani sang pacar. Terdapat beberapa kafe yang sengaja didirikan di tempat tersebut. Untuk masuk dikenakan tarif 1000 rupiah saja. Jangan lupa membawa pakaian ganti dari rumah bila ingin berceburan ke laut..


Pantai Manggar

Pantai ini terletak kurang lebih 15 km dari pusat kota, menyusuri tepi laut ke arah utara. Pasirnya sama-sama putih tapi lokasinya lebih luas dari Pantai Klandasan. Pengunjungnya juga lebih banyak. Di dalamnya bisa Anda jumpai beberapa warung yang menjual es kelapa muda. Bagi yang ingin lesehan, Anda bisa meminjam tikar di tempat tersebut dengan biaya sewa 5000 rupiah saja. Semilir angin laut yang sejuk sangat pas bila digunakan untuk makan siang bersama keluarga.Ada juga banana boat yang bisa Anda naiki bersama 5 orang teman Anda.

Pantai ini cocok untuk bola voli pantai, selain untuk pacaran tentu saja. Sayangnya belum ada fasilitas parkir yang benar-benar dijaga oleh petugas keamanan. Untuk masuk dikenakan tarif 2000 rupiah. Membawa tikar dari rumah juga tidak ada salahnya, untuk menghemat biaya.

Pantai Lamaru

Oleh karena ketiga pantai (Klandasan, Manggar dan Lamaru) menghadap ke laut yang sama, maka pemandangan yang akan Anda dapatkan juga tidak jauh berbeda. Dari ketiga pantai, mungkin ini lah pantai yang terluas. Banyaknya tumbuhan pinus yang tumbuh menambah asri pemandangan yang ada di sana. Membawa ban pelampung dari rumah juga boleh, bila Anda enggan menyewa ban pelampung di sini.

BC

Adalah kependekan dari Balikpapan Centre. Merupakan mall 4 lantai yang notabene adalah mall terbesar di Balikpapan. Terletak di pinggir laut, masih di sepanjang Jl Jend.Sudirman. Di dalamnya bisa Anda jumpai Gramedia untuk membeli buku dan Matahari untuk menambah koleksi pakaian. Sayangnya, dari investigasi yang saya lakukan tidak ada fasilitas wi-fi di mall ini. Kawula muda di Balikpapan lebih suka nongkrong di Lapangan Merdeka memamerkan sepeda motor mereka, dibanding blogwalking. Jadi, untuk apa membawa laptop ke mall?

Penangkaran Buaya

Buaya yang ditangkar di tempat ini adalah jenis Buaya Muara (Crocodillus porosus). Kandang-kandang yang dibangun sangat banyak, dan dipisah-pisahkan antara buaya remaja dan buaya induk.

“Tangkur buaya itu apa to pak?”, Tanya saya pada seorang pawang yang baru saja membersihkan kandang buaya.

“Itu alat kelaminnya buaya”, kata pawang.

“Kelamin? Terus khasiatnya apa itu pak?”

“Itu untuk menghilangkan pegal-pegal, nyeri pinggang dan obat kuat”

“Cara bikinnya?”

“Direndam dulu dengan arak. Terus airnya diminum. Minum satu sloki aja pegal-pegal langsung hilang”

“Harganya berapa pak?”

“Sekitar 200 ribu sampai 400 ribu”, kata pawang.

“Mending minum paracetamol aja kalau cuma untuk menghilangkan pegal-pegal”, batin saya.”Kalau bisa bikin kebal senjata tajam baru saya beli”.

Harga tiket masuk 10 ribu rupiah. Dan bila ingin melihat para buaya berebutan makanan, Anda bisa membeli ayam di tempat itu 10 ribu rupiah per ekornya. Anda bisa juga membawa sapi dari rumah bila tidak mau membeli ayam di tempat ini.

Hutan Lindung Sungai Wain

Agrowisata ini terletak di Jl Soekarno-Hatta Km 23. Merupakan sisa hutan primer dataran rendah Kalimantan yang terakhir di Balikpapan. Bahkan antara Balikpapan sampai ke Samarinda pun konon tidak ada lagi hutan dataran rendah yang masih utuh dengan keanekaragaman hayati yang lengkap.Di hutan ini masih dapat ditemukan populasi beruang madu dengan jumlah terbatas. FYI, beruang madu adalah maskot Kota Balikpapan sejak 2004.

Di enklosur yang dibangun pun hanya terdapat 5 beruang madu, 3 diantaranya pejantan. Saya beruntung bisa melihat salah satunya, walau pun saat itu sang beruang sedang tiduran di pohon. Beruang madu memang hidupnya diurnal, yang berarti aktif pada siang hari, tetapi sering juga tidur sejenak di siang hari. Jadi, tak jarang pengunjung yang tidak bisa melihatnya, apalagi yang menderita rabun jauh.

Beruang madu dalam istilah ilmiah dikenal dengan nama Helarctos malayanus, yang berarti “beruang matahari dari Malaya”, atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai Sun Bear. Merupakan beruang terkecil dari jenis beruang lainnya, tetapi memiliki lidah dan kuku depan yang terpanjang. Lidah dan kuku yang panjang itu digunakan untuk mencari makanan. Sebab beruang madu sangat suka makanan berbagai jenis serangga seperti rayap dan ulat kumbang yang hidup di dalam kayu lapuk. Beruang ini juga suka sekali makan madu. Dengan taring dan kukunya, ia dapat dengan mudah membongkar kayu untuk mencari sarang lebah atau kelulut yang tersembunyi di dalam batang pohon.

Oleh-Oleh

Tidak lengkap rasanya bila pergi berwisata tanpa membawa buah tangan ke rumah. Anda bisa membeli berbagai macam kerajinan khas Kalimantan di Pasar Inpres Kebun Sayur. Di tempat tersebut Anda juga bisa membeli Sarung Samarinda dan Batik Kaltim. Harga sarung berkisar antara 45-50 ribu rupiah, tergantung kualitasnya. Dan bila Anda lebih memilih buah tangan berupa makanan, pertokoan di Jl A.Yani menjual berbagai merk amplang (kerupuk khas Kalimantan).


Minggu, 28 Desember 2008

Tour de Balikpapan


Perjalanan ke Balikpapan diawali dari Banjarmasin. Ada dua alternatif yang bisa diambil: naik pesawat atau naik bis. Saya memilih alternatif yang kedua, karena tarifnya jauh lebih murah tentu saja. Tarif pesawat mencapai harga 637 ribu rupiah, bandingkan dengan tarif bis full AC yang ‘hanya’ 135 ribu rupiah. Pihak penjual tiket bis Bintang Mas, yang berlokasi di Terminal Pal Enam Banjarmasin, memperkirakan bahwa bila bis berangkat jam 4 sore, maka akan sampai di Balikpapan jam 8 pagi. Perjalanan yang lumayan lama, dan melelahkan.

Kesan bis yang pertama kali saya lihat adalah, kreativitas dari pemilik bus. Di bawah corong keluar AC dari beberapa kursi penumpang nampak dipasangi plastik-plastik, mirip talang air. Belakangan saya tahu bahwa perkakas itu dipasang untuk mengantisipasi AC yang bocor!

Kesan kedua adalah ketidaknyamanan. Jok yang saya tempati ternyata rusak, yang mengakibatkan punggung saya tidak bisa bersandar dengan semestinya. Tidak perlu menjadi dokter untuk memahami bahwa perjalanan yang begitu lama tanpa bersandar adalah salah satu faktor resiko dari low back pain. Wan nang itu bujur-bujur bakajadian lawan ulun! Sesampainya di Balikpapan, punggung terasa nyeri bukan buatan.


Kesan ketiga adalah memuakkan, terutama setelah hidung saya mencium bau kentut dari salah seorang penumpang. Kurang ajar betul.

Dalam perjalanan ini,bis berhenti beberapa kali di beberapa terminal. Di Kalimantan Selatan, makanan yang dijajakan para pedagang sama persis dengan apa yang bisa dijumpai di Pasar Wadai Tradisional di Martapura, yaitu berkisar antara Jenang Cangkrukan dan Kalalapon dari Martapura hingga Dodol dari Kandangan. Tidak ada satu pun penjual tahu asin dan telur puyuh, seperti yang lazim saya temui di Jawa, hingga bis sampai di pelabuhan penyeberangan di Penajam, Kalimantan Timur.

Saya sampai di Balikpapan jam 10 pagi, turun di Pulau Indah Jaya dengan disambut gerimis hujan. Di situ Oom saya sudah menunggu, dan kami pun berpelukan.

“Alhamdulillah…sampai juga akhirnya…”, kata Oom saya.